Edisi Cetak : Tabloid SUARA PUBLIK

~GOOGLE ~ TRANSLATE~

BERITA TERPOPULER

VIEW VIDEO

Makmur Lingga, Sang Pelopor Inovasi Teknologi Hemat Energi

Langsa, Pusat Green Energy Indonesia

Padi yang berisi akan semakin merunduk, demikian peribahasa tepat disematkan kepada Kepala SMKN 2 Langsa, Makmur Lingga, S.Pd, M.Pd. Pria yang lahir di Lingga Tenggah, 3 Agustus 1953 ini sangat bersahaja. Tiada sedikit pun keangkuhan atau kesombongan yang ada pada pribadinya. Keceriaan, ramah dan memiliki pergaulan yang luas adalah cirinya keseharian dalam menjalani hidup.

Makmur Lingga, S.Pd, M.Pd
Baginya, hal yang paling menyenangkan adalah bisa berbagi untuk sesama dan membahagiakan orang banyak. Karenanya, semakin ia berada di posisi puncak kesuksesan, kesederhanaan dan kerendahan hati terus menjadi landasannya dalam berkarir dan melanjutkan perjuangan hidup.

Makmur kecil mengenyam pendidikan Sekolah Rakyat (SR) di kampung halamannya yang merupakan perbatasan antara Sumatra Utara dan Aceh, tepatnya di Sidikalang, daerah berdampingan langsung dengan Aceh Singkil. Selesai menamatkan SR di tahun 1966, melanjutkan ke SMP Sidikalang dan tamat tahun 1970. Sejak di bangku sekolah lanjutan itu, Makmur Lingga telah menggandrungi teknologi.

Terbukti, ia rela merantau di usia muda untuk menimba ilmu di Sekolah Teknik Menengah (STM) Siantar pada tahun 1972. Tidak puas sampai disitu saja, dia kembali belajar menambah pengetahuan mengikuti program Pendidikan Guru Lanjutan Pertama (PGLP) tahun 1975, Diploma III (D-3) Teknologi Bandung, Jawa Barat. Pernah juga ia tempuh pendidikan tinggi demi memperdalam ilmunya di era 1983. Jenjang kesarjanaan Strata Satu (S1) dilakoni pada Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan (IKIP) Bandung tahun 1991. Kemudian, Strata Dua (S2) di jalani pada program pasca sarjana Universitas Syiah Kuala (Unsyiah) Banda Aceh, setelah dua tahun tsunami berlalu pada 2006 silam.

Paras wajahnya terbilang biasa saja layaknya kebanyakan orang, darahnya mengalir campuran Karo dan Alas. Akan tetapi dia tetap mengaku sebagai orang Aceh, terlebih isterinya Sopiah Bin Jalil Hasyim adalah dara Simpang Ulim, Aceh Timur, yang merupakan anak saudagar daerah itu. Kini, uban sudah mulai tampak jelas di kepalanya. Namun, bukan berarti ia tidak lagi produktif. Melainkan, semakin terasah hingga mampu menciptakan inovasi baru dan teknologi handal dalam dunia pendidikan.

Berbekal ilmu pengetahuan dan ketekunannya membaca berbagai buku, telah menghantarkan Sang Kepsek ini bersama rekan seperjuangannya “menembus batas tinggi” lewat temuan teknologi hemat energi untuk bahan bakar kenderaan bermotor. Bahan Bakar Minyak (BBM) dimaksud merupakan hasil riset dirinya beserta rekan se-profesinya yang mengubah air menjadi alternatif lain sebagai bahan bakar kenderaan seperti sepeda motor dan mobil.

Buah karya itu, telah diperbincangkan di tingkat dunia. Penemuan ini adalah langkah maju yang dihasilkan oleh SMKN 2 Langsa yang menjadi representatif Aceh di mata internasional. “Green energy adalah inovasi teknologi hemat energi yang berhasil kita kaji belakangan ini,” tukasnya sekenanya.

“Penemuan ini sangat bermanfaat bagi kehidupan masyarakat di tengah krisis BBM dunia, terlebih harga minyak yang terus melonjak tinggi dan tentu akan mengurangi polusi, sehingga tidak mencemari lingkungan,” tutur Makmur Lingga ketika bertemu media ini di Bengkel Teknik Mandiri milik SMKN 2 dari hasil pemikiran Kepsek yang telah menjabat sejak tahun 2.000 hingga saat ini.

Produk bahan bakar menggunakan air yang diubah menjadi gas itu diberinama Weve plus-plus SMK (Weve ++ SMK). Sejauh ini, Makmur Lingga yang didukung sepenuhnya oleh Walikota Langsa, Drs. Zulkifli Zainon, MM telah bekerjasama dengan Lembaga Institut Energi yang berasal dari Swedia. “Dukungan dari Walikota Langsa tidak hanya itu, sejak awal merintis berdirinya bengkel las, bengkel sepeda motor dan bengkel perbaikan mobil. Termasuk sangat merestui dan giat memberikan support kepada kami di SMK ini dalam merampungan riset green energy yang berlangsung, upaya lobby dukungan Pemerintah Pusat juga kerap difasilitasi oleh Pak Wali melalui jaringan beliau di Kementerian Perindustrian & Perdagangan” jelasnya.

Masih menurutnya, walikota sangat merespons berbagai terobosan yang dilakukan pihak SMKN 2. Kerja keras pimpinan daerah inilah yang kemudian dapat mewujudkan terealisasinya pilot project green energy untuk Indonesia berada di Kota Langsa. Sehingga Langsa ke depan menjadi pusat green energy pertama di Nusantara.

Tampaknya, inilah bukti komitmen walikota membangun pendidikan dan perekonomian daerah yang telah menggugah Indonesia dan dunia internasional dengan penemuan baru tersebut. Ternyata, apa yang tersebut oleh sebagian orang bahwa walikota berleha-leha diluar daerah terbantahkan oleh sendirinya.

Disamping itu, peranan Pusat Pendidikan dan Pelatihan (Pusdiklat) Departemen Perindustrian pun memiliki makna tersendiri dalam usaha pengembangan teknologi hemat energi pertama di Indonesia ini. “Mereka sangat menopang dan mendukung inovasi ini,” sebut ayah empat anak itu.

Jika kita melihat komitmen dan kerja keras Makmur Lingga, tentu akan mengacungkan jempol atas pengabdian, kerja keras, dedikasi dan loyalitasnya dalam meningkatkan Sumber Daya Manusia (SDM) bagi peserta didiknya di sekolah dan meningkatkan perekonomian masyarakat melalui peluang kerja yang tercipta di lingkungan SMKN 2 maupun upaya kerja sama dengan berbagai perusahaan asing dalam hal penyaluran tenaga kerja profesional yang akan dipekerjakan pada perusahaan besar luar negeri seperti Jepang, Korea, Malaysia, bahkan Eropa.

Dirinya juga telah menjadi kebanggaan Kota Langsa, Aceh khususnya dan Bangsa Indonesia secara umum atas keberhasilannya melalui inovasi teknologi hemat energi ‘Weve ++ SMK’ yang sebentar lagi akan diproduksi.

“Adapun komponen ‘Weve ++ SMK’ terdiri dari generator, tangki dan separator, elektronik control, filter dan moisture trapper. Di alat inilah letak rahasia inovasi green energy, dimana perangkat tambahan ini dibuat sebagai pengaman terakhir sebelum gas HHO yang dihasilkan manitake manifold,” papar Makmur sambil mengatakan, harga jual perunit perangkat tambahan penghasil bahan bakar air dan gas ini sekitar Rp. 3,7 juta.

Dalam waktu dekat ini, dirinya akan dilantik menjadi Direktur Institut Energi di Jakarta. Setelah itu, segera dirinya mendaftarkan hak paten atas penemuannya itu pada Kementerian Perindustrian dan Perdagangan. Kemudian, melakukan berbagai persiapan untuk mulai melaksanakan pelatihan dan sertifikasi pembuatan mesin penghemat energi kepada seluruh pelajar SMK di Indonesia terdiri dari 545 kab/kota pada bulan Juni 2012 di Langsa.

Langkah berikutnya adalah menyebar luaskan program ini pada 8.769 sekolah menengah kejuruan yang tersebar di Indonesia. Tentunya, ini merupakan tantangan dan kerja berat bagi Makmur Lingga. Kita sebagai orang Aceh harus membantu dirinya mensukseskan Langsa sebagai pilot project dan Aceh semakin terdepan. Bravo Makmur Lingga ! (Putra Zulfirman)



Related Post



Posted by spublikatjeh on 21.41. Filed under , , , . You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0

0 komentar for Makmur Lingga, Sang Pelopor Inovasi Teknologi Hemat Energi

Leave comment

Recent Entries

Recent Comments

Photo Gallery